Tuesday, February 5, 2013

PUBLIKASI ILMIAH : BEST PRACTICE PENGALAMAN MENGAJAR (Tulisan Best Practice dalam Bentuk Narasi Deskriptif)



Ketika Senyum Manis Berubah Menjadi Senyum Cantik
Oleh : Deri Rudiana – SMPN 1 Jatisari karawang

Hati dan pikiran para siswa laksana api yang setiap hari harus dinyalakan agar semangat dan motivasi belajar mereka tak pernah pudar ataupun padam di ruang kelas. Sebagai seorang guru, saya harus punya cara, agar di setiap kelas yang saya kunjungi, api itu dapat kunyalakan sehingga cahaya hari itu bisa menjadi cahaya penerang untuk hari esok mereka.


Setiap pagi, saya berjumpa dengan murid-muridku di sekolah, mereka menyapaku dengan senyum ramah dan selalu menyalamiku. Senyum dan keramahan mereka ibarat segelas teh manis ternikmat yang selalu kucicipi setiap pagi. Saya senang melihat keramahan mereka dan sudah pasti sayapun sangat menyayangi mereka. Tetapi ada perasaan berdosa dalam diri saya terhadap mereka, betapa tidak? selama ini prestasi mereka tidak begitu baik, tidak menggembirakan dan tidak membanggakan bagi saya dan pasti juga mereka. Secara rata-rata, nilai mereka setiap ulangan harian selalu banyak yang kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Saya malu pada diri sendiri,”Ya Tuhan, apa yang harus kuperbuat? ” keluhku dalam hati. Padahal menurutku, saya telah berusaha mengajar semaksimal mungkin sesuai dengan tugas dan kewajiban sebagai seorang guru. Saya datang dan mengajar setiap hari, untuk mengasah kemampuan mereka saya memberinya tugas, memberi pekerjaan rumah (PR), memberi latihan soal, memberikan remidial untuk yang nilainya kurang dari KKM dan itu sudah saya lakukan semuanya. Di kelas, saya bagaikan pengkhotbah ulung, saya mengajar mereka dengan ceramah yang materinya sudah saya hapal betul, karena dari tahun ke tahun hanya itu dan itu yang saya sajikan, seperti siaran ulang di TV, yang berbeda hanya pemirsanya saja. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), saya telah menyiapkannya di awal tahun pelajaran. Tapi mengapa nilai ulangan harian dan prestasi anak-anakku hampir selalu tidak ada perubahan kearah yang lebih baik? padahal setiap saya selesai menyampaikan materi pembelajaran di kelas, saya selalu bertanya pada mereka, “Apa kalian susah mengerti?” merekapun menjawabnya, “Iya,“ lalu saya bertanya lagi, “Ada yang mau bertanya?” merekapun diam, tak ada yang bertanya, bukankah itu bukti bahwa mereka sudah paham dengan apa yang saya ajarkan? lagi-lagi saya merasa aneh, ketika ulangan harian, mendapati nilai mereka banyak yang kurang dari KKM. “Hmm..., sepertinya mereka jarang belajar di rumahnya, makanya nilainya selalu kecil,” itu kesimpulanku. Pernah kepada beberapa sesama rekan guru saya bertanya tentang kondisi siswa di sekolah kami, ternyata hampir semua guru sama mengeluhkan kondisi riil yang relatif sama. “Ya sudahlah, kalau begini bukan salah kita, karena tugas kita mengajar di sekolah sudah kita lakukan, soal belajar di rumah, itu ‘kan tanggung jawab orang tua dan mereka masing-masing,” kata salah seorang rekan guruku. Saya hanya diam tak berkomentar, tetapi tetap saja ada yang mengganjal di hati saya, dan ini sudah lama saya rasakan.

Telepon dari teman
Suatu hari saya menerima telepon dari teman yang mengajar di SMPN 2 Jatisari, Teh Cucu Hadiati, namanya. Saya biasa menyapanya “Teteh” (kakak perempuan) karena dia kakak kelasku ketika kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung (UNPAD) sekitar tahun 1990-an. Teh Cucu, meminta agar saya datang esok harinya untuk mengikuti kegiatan pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari Sampoerna Foundation, tempatnya di SMPN 1 Klari Karawang. “Oke, siap Teh Cucu?“ jawabku.
Jadwal pelatihan jam 08.30 WIB, tapi sekitar jam 07.40-an, saya dan Pak Tatang Rukmana, teman se-SMP-ku sudah datang di SMPN 1 Klari, sekolah berlantai dua berstatus Sekolah Berstandar Nasional (SSN), Rekan guru peserta pelatihan PTK dari SMP lain ternyata sudah pada hadir juga. Kami berkumpul dan duduk-duduk di teras Mesjid sekolah ini yang letaknya masih di lingkungan sekolah, di sebelah kanan pintu gerbang masuk, dekat Pos Satpam. Ketika asyik berbincang-bincang, sebuah mobil kijang kapsul warna hitam memasuki halaman SMPN 1 Klari dan langsung menuju tempat parkir, dua orang ibu-ibu muda turun dari mobil tersebut, mereka langsung menuju tangga naik ke lantai dua, SMPN 1 Klari. “Kayaknya…, mereka fasilitatornya,“ tebakku dalam hati. “Saha itu ibu-ibu teh, wawuh teu?” (Siapa itu ibu-ibu, kenal enggak?) Pak Tatang, bertanya pada saya. “Teu kenal, saha, nya?“ (enggak kenal, siapa, ya?) jawabku balik bertanya. “Ti Sampurna panginten, Pa?” (Dari Sampoerna kayaknya, Pak?), kata seorang rekan guru yang lain. “Hayu atuh ah, urang ka luhur, Pa” (Ayo ah, kita ke atas, Pak) kata Pa Tatang, mengajak kami naik ke lantai dua menuju tempat pelatihan, karena menurut informasi kemarin dari Teh Cucu Hadiati, pelatihan akan dilaksanakan di lantai dua sekolah ini. Tanpa berkomentar lagi kami menuju tangga naik menuju ke lantai dua.
Benar saja, si ibu-ibu muda tadi memang fasilitator yang akan memberikan materi pelatihan PTK dari Sampoerna Foundation, beliau adalah Bu Susilowati dan Bu Caesillia. Karena pelatihan ini untuk guru Matematika dan IPA, Fasilitator membagi peserta pelatihan menjadi dua kelompok yaitu kelompok guru Matematika dan kelompok guru IPA, dan saya berada di kelompok IPA. Semua peserta jumlahnya 60 orang, 30 orang dari Matematika dan 30 orang lagi dari IPA. Fasilitator kelompok IPA adalah ibu Susilowati sementara ibu Caesillia yang memiliki postur tubuh terbilang tinggi adalah fasilitator di kelompok Matematika.
Pelatihanpun dimulai, “Bapak-bapak, ibu-ibu selama tiga hari, kita akan melaksanakan pelatihan PTK,” kata Bu Susi. “Ada yang tahu enggak PTK itu apa?”, Bu Susi bertanya pada kami. “Kalau mendengar, sih.., sering, Bu. Tapi kalau membuatnya, yaaa.. gitu dech…hehehe..”  salah seorang rekan guru menjawab dengan nada setengah bercanda, kamipun jadi tersenyum tak terkecuali, Bu Susi. Sesi per sesi kami mengikuti pelatihan, saya merasa ada yang lain dari cara Bu Susi dalam menyampaikan materinya, beliau menyampakan materinya dengan baik dan segar, ketika peserta mulai keliahatan mengantuk beliau pasti memberikan Ice breaking. Menjelang  coffee break, Bu susi berkata, “Bapak-bapa, ibu-ibu, coba tuliskan sebuah kata yang berhubungan dengan PTK di kertas selembar, lalu kertasnya di remas menjadi sebuah bola,” kamipun menuliskannya. “Sekarang, silahkan bapak, ibu banting sekuat-kuatnya bola kertas itu ke lantai agar rasa jenuhnya hilang,” kata Bu Susi lagi, kamipun menurutinya.Tapi setelah kami membantingnya, Bu Susi berkata lagi, “Bapak… Ibu… silahkan istirahat dulu tapi jangan lupa bola kertas yang tadi di banting diambil lagi dan di buang ketempat sampah, yaaa..hehehe,” kamipun spontan bersuara, “Huuuuuu…,“ sementara Bu Susi malah keluar sambil tersenyum.  “Jiaaahhh…, ternyata Bu Susi hanya ngerjain kita, nih… hehehe..,“ kataku.
Materi demi materi telah disampaikan oleh Bu Susi dan sampailah pada hari terakhir pelatihan. “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, hari ini adalah hari terkhir kita melaksanakan pelatihan PTK dan kami akan memberi tugas kepada bapak-bapak dan ibu-ibu untuk membuat proposal PTK selama tiga minggu. Kalau sudah jadi proposalnya, nanti di kirim ke e-mail saya, proposal yang masuk nantinya akan diseleksi dan dipilih 10 proposal PTK terbaik, Propsal PTK terbaik ini nantinya akan diberi insentif berupa dana untuk melaksanakan PTK di sekolah masing-masing.” Kata-kata Bu Susi ini mengejutkan kami semua, karena kami mengira pelatihan ini tidak ada tindak lanjutnya.
Suatu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, saya duduk di kursi sambil nonton TV dengan anak saya, tiba-tiba HP-ku berdering, ada sms masuk, Saya bangkit menuju tempat HP-ku berdering yang saya taruh di atas rak sebelah kanan TV, kubuka lalu kubaca, ternyata isinya dari Bu Cucu Ratnaningsih, guru Matematika dari SMPN 1 Kota Baru, beliau adalah peserta pelatihan PTK dari kelompok Matematika. Beliau memberitahukan bahwa Bu Susi telah menelponnya dan mengabarkan bahwa Saya, Pak Tatang Rukmana dan Bu Cucu Ratnaningsih telah terpilih lolos seleksi 10 proposal PTK terbaik dan akan dipanggil untuk mengikuti pembekalan lebih lanjut untuk persiapan melaksanakan PTK.
Pendampingan dan pembekalan untuk pelaksanaan PTK diikuti peserta yang jumlahnya 10 orang, yang telah lolos seleksi pemilihan proposal yang telah dikirimkan melalui e-mail Bu Susi untuk kelompok IPA dan melalui e-mail Bu Caesillia untuk kelompok Matematika, Selama pendampingan, saya termotivasi melaksanakan PTK karena Bu Sisil, panggilan akrab Bu Caesillia dan Bu Susi memberikan bimbingan langsung orang per orang kepada 10 orang ini. Kami dibimbing untuk memperbaiki dan menyiapkan mana yang masih dianggap kurang atau belum tepat baik instrumen penelitian, alat pengumpulan data, teknik pengolahan data dan sebagainya dalam persiapan melaksanakan PTK,  Saya sangat senang menerima bimbingan yang sangat berharga dan bermakna itu. Pembimbingan ini memberi pengalaman dan wawasan baru bagi saya dan telah memberi semangat untuk melaksanakan PTK di sekolahku.

Aula Alam Sari Yang Membuatku Dag Dig Dug
Hasil penilaian pihak Sampoerna Foundation telah memutuskan bahwa Saya, Ibu Dwi Pangesti dan Ibu Widati terpilih ke dalam kelompok tiga besar penulis laporan PTK terbaik, kami bertiga diminta untuk mempersiapkan diri membuat power point karena ketiga PTK terbaik ini akan diseminarkan dan kami bertiga akan menjadi pembicara pada acara seminar PTK tersebut, sementara rekan kami yang tujuh orang lagi diminta membuat poster PTK masing-masing untuk dipajang pada acara seminar nanti.
Jumat, 5 Maret 2010, Aula Restaurant Alam Sari Karawang Barat tampak ramai dipenuhi orang-orang yang mayoritas mengenakan batik, Ya, hari itu akan digelar acara seminar PTK. Seminar ini dihadiri dan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang, hadir pula para Pengawas SMP, Kepala Sekolah se-Kabupaten Karawang, dan dari unsur guru. Melihat yang hadir begitu banyak, ada perasaan was was di hati, takut demam panggung ketika tampil. Jantungku mendadak dag dig dug tak menentu, “Ya Allah berilah saya kemudahan, kelancaran, dan ketenangan ketika tampil di depan khalayak seperti ini,” saya berdo’a dalam hati dan mencoba menenangkan diri. 
 Tibalah giliranku untuk mempresentasikan hasil laporan PTK, diiringi dengan riuhnya tepuk tangan para hadirin, dengan perasaan yang masih was was dan jantungku yang dag dig dug, saya berjalan ke depan menuju laptopku di meja presentasi yang telah menunggu untuk dioperasikan. Sebelum memulai, saya memperkenalkan diri, menyebutkan nama dan tempat unit kerja. “Bismillahirrohmanirrohim…,“ ucapku dalam hati, dan klik! kutekan dua kali file PTK-ku, tampaklah di layar judul PTK-ku, selanjutnya slide demi slide kutayangkan dan kupaparkan maksud dan tujuannya. Aneh…, entah pengaruh apa, Jantungku yang dag dig dug kencang sedikit demi sedikit detaknya mulai normal, sayapun mulai menikmati presentasiku, ketenangan dan kepercayaan diri semakin bertambah, mungkin berkat do’a yang kupanjatkan tadi. Akhirnya, kututup sesi presentasiku, “Alhamdulillah…,Ya Allah, aku telah diberi kelancaran,” ucapku dalam hati sambil menarik napas panjang. Plong! rasanya.
Moderator memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya. Seorang pengawas SMP mengacungkan tangannya dan setelah dipersilahkan oleh moderator beliau bertanya pada saya, “Pak, penelitian ini pakai observer, nggak?” saya menjawabnya, “Pakai, Pak. Kebetulan observernya teman sejawat saya dan sekarang beliau hadir disini,” kataku sambil menunjuk ke arah Pak Tatang Rukmana yang duduk di deretan kursi kedua dari depan. “Ooh.. kalau begitu, saya ‘ga jadi untuk bertanya, Bu” lanjut beliau kepada moderator, entah apa maksudnya beliau bertanya seperti itu, saya agak bingung. Selesai sesi tanya jawab, aku bersyukur, “Alhamdulillahirobbilalamiiin…” Kubereskan laptop kesyanganku dan kumasukan kedalam tasnya, “Pak, bagus presentasinya, data-data yang ditampilkannya tajam”, dari sebelah kananku, kudengar ada orang yang berbicara padaku, aku menoleh dan tersenyum padanya, “Terimakasih, Pak..,” jawabku pendek. Dari belakang tiba-tiba ada seorang bapak membawa flashdisk, “Pak, boleh ngopi ‘ga PTK-nya?” katanya. Saya berbalik kearah si empunya suara, “Wah, bapak mohon maaf,  PTK ini didanai oleh Sampoerna, jadi saya harus minta ijin dulu pada pihak Sampoerna-nya,” aku menolaknya secara halus dan memberinya alasan.”Ooh.., ya udah deh, ‘ga apa-apa kalau begitu, Pak” katanya, sambil tersenyum.

Kharisma Benda Bersudut Lima
Pengalamanku melaksanakan PTK memberiku inspirasi untuk melakukan refleksi  terhadap apa yang terjadi dengan prestasi anak-anaku di kelas, saya berusaha mencari tahu, kenapa aku jarang melihat senyum kepuasan di wajah mereka setelah belajar? kenapa nilai ulangan mereka selalu banyak yang kurang dari KKM? saya terus berpikir. Implementasi model pembelajaran koopretif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dalam PTK-ku, hasilnya menunjukkan perubahan yang baik. Prestasi anak-anakku menjadi semakin bagus  ketika diberikan kuis, menurutku hasil yang dicapai anak-anakku yang sudah baik itu tidak terlepas dari reward  dan pengelompokkan siswa ketika belajar, mereka diberi reward dengan pujian, tepuk tangan, acungan jempol atau yang lainnya ketika berhasil menjawab pertanyaan dan mereka sangat senang menerimanya, ternyata dengan dikelompokan, siswa lebih kondusif belajarnya. Kelompoknya dibuat secara heterogen dari tingkat prestasi dan jenis kelaminnya, sehingga kemampuan tiap kelompok dan jumlah siswa laki-laki dengan perempuan tiap kelompok relatif sama serta memiliki kemampuan yang berimbang. Dengan diberi reward dan dikelompokan, ada hal yang menarik dan sangat membantu, mereka yang tadinya malu untuk bertanya pada saya, menjadi terbantu oleh temannya sendiri, berarti ada peran tutor sebaya di tiap kelompok. Saya akan mencoba menerapkan hasil refleksi ini di kelas ketika saya mengajar, saya akan membuat reward dalam bentuk yang lain.
Saya membuat bintang-bintang yang ukurannya kecil dari kertas asturo warna kuning dan mengguntinginya, bintang-bintang ini akan saya berikan sebagai reward kepada siswa yang bisa menjawab dengan benar setiap pertanyaan yang saya ajukan setelah saya menjelaskan materi pelajaran. Jumlah bintang yang mereka raih akan saya catat dan menjadi nilai tambah bagi nilai mereka sendiri.
Di kelas IX-F, sebelum mulai mengajar saya memperlihatkan bintang-bintang yang saya bawa hari itu dan menjelaskan untuk apa bintang-bintang itu saya bawa ke kelas mereka, mereka menatap bintang-bintang yang terbuat dari kertas asturo itu dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Saya menangkap suatu keinginan dari tatapan mereka, keinginan meraih bintang-bintang yang saya bawa. “Semoga dengan bintang-bintang ini saya berhasil menyalakan api semangat dan motivasi belajar mereka sekaligus mendorong nilai ulangan mereka menjadi lebih baik,” aku berharap dalam hati.
Dua puluh menit lagi sebelum selesai mengajar, saya menyuruh anak-anak kelas IX-F, “Nah, sekarang tutup semua buku kalian, karena bapak akan mengajukan beberapa pertanyaan dari materi yang tadi sudah dijelaskan, siapa yang bisa menjawabnya dengan benar akan diberi bintang ini dan menjadi nilai tambah untuk nilai kalian nanti,” kataku sambil mengacungkan sebuah bintang yang terbuat dari kertas asturo itu. “Asyiiikk…,” teriak Devi, sambil tersenyum dia menutup buku paket dan buku catatannya, anak-anak yang lainpun sama. “kalau begitu, siap yaaa..?” lanjutku. Kelas sesaat hening, lalu saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka.
 “Apa yang dimaksud dengan ekskresi ?” sekilas kulihat Devi yang duduknya di depan barisan paling kanan, paling cepat mengacungkan tangannya,
“Apa, Devi?’ saya bertanya pada Devi dan dia menjawabnya dengan benar, lalu dia kuberi bintang satu buah, dia tersenyum gembira.
“Soal kedua ….” lanjutku.
“Apa saja yang termasuk alat-alat ekskresi pada manusia ?” Rahmat, yang duduk di deretan bangku ketiga, baris kedua dari kiri, paling cepat mengacungkan tangannya, diapun menjawabnya dengan benar, kuberi juga dia satu bintang.
“Jika seseorang, urine-nya banyak mengandung zat gula, maka orang tersebut diprediksi mengidap penyakit apa?” Anak-anak banyak yang mengacungkan tangannya, “Pak…, saya, Pak! saya, Pak..., saya pak!“ mereka ramai tak sabar ingin mendapat giliran. Tapi saya menunjuk Ilfa, dia yang mengacungkan tangan paling cepat, diapun menjawabnya dengan benar, Ilfa meraih satu bintang.
“Apa yang dimaksud proses reabsorpsi dalam ginjal?” anak-anak mengacungkan tangannya, saya melihat Ratna mengacungkan tangannya paling cepat.
“Apa jawabannya, Rat?” Ratna menjawabnya tapi jawabannya salah, spontan anak-anak pada ribut minta diberi giliran menjawab, “Saya, Pak! saya, Pak! saya, Pak!” saya bingung juga, karena saya tidak tahu siapa tadi yang paling cepat mengacungkan tangannya setelah Ratna. Akhirnya, saya menyuruh mereka untuk menurunkan tanganya. “Sekarang begini, bapak akan hitung sampai tiga, siapa yang mengacungkan tangannya paling cepat, dia berhak untuk menjawab, setuju?” tanyaku, “ Setujuuu…..” jawab mereka. “ oke, siap ya,…satu… dua…. tiga!” mereka berebutan mengacungkan tangannya, tapi Ilham yang duduknya tepat dihadapanku paling cepat, diapun menjawabnya dan benar. Tak terasa belpun berbunyi, dan jam pelajaranku telah usai, “Huuuuu…..,“ suara kekecewaan anak-anak terdengar serempak, padahal tidak yang memberi komando. Saya tersenyum dan berkata pada mereka, “coba yang punya bintang maju ke depan. bapak akan catat, siapa saja yang mendapat bintang hari ini?” anak-anakpun maju ke depan dan mengembalikan bintang yang telah mereka raih tadi, Setelah mencatatnya, saya berkata pada mereka, “Ya udah.., karena sudah bel, sekian dulu kita belajar hari ini, O, ya Ratna dan kalian yang hari ini belum mendapat bintang, tidak usah kecewa masih ada pertemuan-pertemuan berikutnya, pasti kalian juga bisa meraih bintang,” kataku. Saya melirik ke arah Devi, lalu berkata,”Devi, kamu telah meraih bintang paling banyak hari ini, selamat ya, vi…” saya memberi aplaus untuk Devi, diikuti tepuk tangan dari anak-anak, Devi hanya senyum-senyum saja, tampak wajahnya senang karena telah meraih bintang paling banyak hari itu.
Dari hari ke hari, dari kelas ke kelas, sedikit demi sedikit iklim belajar mulai mengalami perubahan. Bukan hanya nilai ulangan mereka menjadi semakin baik, tetapi Proses Belajar Mengajar (PBM) mulai lebih baik, anak-anak ada yang mulai berani bertanya saat PBM, padahal selama ini jarang sekali ada siswa yang berani bertanya. Rahmat, anak IX-F ketika belajar “Bioteknologi” bertanya, “Pak, kenapa untuk membuat keju, kita memanfaatkan bakteri, ‘kan bakteri itu suka membuat kita sakit?” atau Dina, kelas VIII-B ketika praktikum “Getaran” bertanya, “Apakah gerak jarum jam yang berputar termasuk getaran?” lain lagi dengan Nawa, siswi kelas IX-C, yang mau menampilkan peta konsep “Sistem Saraf” yang dibuatnya di whiteboard tanpa takut salah dan meminta pendapatku tentang peta konsepnya. Suatu hari, di kelas IX-A saya membahas tentang “Pewarisan Sifat”. Yeni bertanya,”Ayahku dan Ibuku rambutnya lurus, kok saya ikal, Pak. Kenapa, ya?” Andri yang duduk di pojok kanan nyeletuk,”Yeni,Maneh mah anak tatangga, meureunani..,” (Yeni, kamu itu anak tetangga, kali..) tawa anak-anakpun pecah, sayapun ikut tertawa, “hahaha….” Yeni memelototi Andri, mukanya kelihatan kesal. “Sudah…, sudah.., begini Yeni…” saya berusaha menghentikan tawa anak-anak dan menjawab pertanyaan Yeni.
Di hari yang lain, usai mengajar di kelas IX-E, saya ke luar kelas dan berjalan menuju kelas yang lain, dari belakang ada yang memangil, “ Bapak… bapak…” Saya menolehnya, kulihat Maria anak IX-E dengan seorang temannya berjalan ke arahku, setelah ada di depanku dia berkata, “Maria, kecewa ah.. sama bapak… “, katanya. “Kecewa, kenapa ?” tanyaku, heran. “Uhh...udah cape-cape belajar di rumah, eeh… Maria ‘ga ditanya, sama Bapak?” jawabmya. Saya tersenyum, “He..he..he… Maria…Mariaaa,,, ‘kan yang ditanya itu yang paling cepat mengacungkan tangannya. Ya, kan ?” kataku sambil tetap tersenyum. “Akh…pokonya kalau Maria, ‘ga ditanya nanti, Maria kecewa ah… sama bapak” jawabnya sambil cemberut, sementara temannya hanya senyum-senyum. “Iya deh, iya. Nanti bapak kasih pertanyaan khusus buat Maria, tapi rajin belajar, ya?”, kataku. “Janji ya,Pak?” katanya lagi, bersemangat. ”Oceeh..oceeeh. Siiip..lah,” kataku setengah menggoda.
Ucapan Maria tadi, jadi kepikiran terus,  “Jangan-jangan…, banyak anak yang kecewa seperti Maria, cuma mereka tidak berani mengatakannya,” gumamku dalan hati. Di pertemuan berikutnya saya mengubah cara bertanya agar lebih bervariasi, tidak hanya yang paling cepat mengacungkan tangan yang mendapat giliran menjawab, tetapi pertanyaan terkadang diajukan khusus untuk siswa perempuan, siswa laki-laki, siswa yang duduknya di barisan bangku paling kanan, paling kiri, deretan depan, deretan belakang, atau diajukan khusus untuk yang sama sekali belum pernah mendapat bintang, sehingga tiap hari makin banyak siswa yang dapat meraih bintang dan mereka tampak senang.
Saya senang iklim belajar sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi hangat, senyum kepuasan di dalam kelas setelah belajar mulai tampak di wajah anak-anakku, koondisi ini akan terus saya jaga dan pertahankan, biar kurasakan senyuman manis mereka berubah menjadi senyuman cantik yang sedap dipandang mata, serta nikmatnya meresap ke dalam hati dan tulangku. Terlintas dipikiranku, “Akh.., sekiranya saya seorang novelis, saya akan menulis novel, dan disampulnya terutulis: “Ketika senyum manis berubah menjadi senyum cantik”. Hehehe…, akan tetapi saya lebih suka mengucakan kata syukur, “Alhamdulillah …”








1 comment: